PORTAL BOGOR, Tahun Baru Islam 1447 H kembali hadir menyapa umat Muslim di seluruh dunia. Sayangnya, alih-alih momen ini disambut dengan sukacita dan semangat perubahan, justru momen ini datang di tengah nestapa dan penderitaan umat Islam. Genosida yang menimpa saudara kita di Palestina belum juga berhenti, bahkan terus berlangsung di hadapan dunia.

Ironisnya, para penguasa negeri-negeri Muslim justru bersikap lemah, bahkan sebagian terang-terangan berkhianat terhadap perjuangan umat Islam. Kondisi ini seharusnya menjadi bahan renungan atau refleksi mendalam bagi umat Islam: kemanakah arah perjalanan kita (umat Islam) selama ini?

Tahun Baru Islam sejatinya bukan hanya seremonial pergantian kalender. Bulan Muharram adalah momentum sejarah yang agung, di mana peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik awal kebangkitan Islam secara nyata.

Dari sebuah komunitas kecil yang tertindas, umat Islam berubah menjadi kekuatan besar yang memimpin peradaban dunia, menyebarkan rahmat ke seluruh alam melalui naungan Daulah Islam (Khilafah). Kala itu, umat Islam dipersatukan di bawah naungan Daulah Islam, dipimpin oleh seorang pemimpin (khalifah) yang menerapkan hukum Allah secara menyeluruh (kaffah).

 Islam pun tersebar luas, membawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Namun, hari ini umat Islam justru kehilangan identitas dan arah. Predikat "khairu ummah" atau umat terbaik yang disematkan dalam surah Ali-Imran ayat 110 tampak nyata hari ini tidak nampak dalam realitas kehidupan. Kita bisa saksikan di mana hari ini umat Islam terpecah-belah, tertindas secara ekonomi, lemah secara politik, dan terpinggirkan secara budaya.

 Akar dari semua ini tidak lain karena umat Islam hari ini sangat jauh dari aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi dalam surah Thaha ayat 124.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Artinya bahwa siapapun yang berpaling dari peringatan Allah, maka sesungguhnya ia akan menjalani kehidupan yang sempit dan penuh kesempitan.