PORTAL BOGOR, Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Namun nampaknya peringatan ini hanya sekedar ceremonial tahunan, sementara dunia pendidikan semakin suram.

Dunia pendidikan semestinya menjadi iklim ideal dalam membentuk generasi yang menjaga tradisi keilmuan. Namun sayangnya hari ini itu tidak lagi terjadi.

Banyak kasus yang lahir justru di dunia pendidikan. Diantaranya kasus-kasus kekerasan seksual, bullying, perlakuan murid yang merendahkan guru, sampai kepada keterbatasan pemahaman yang mereka miliki. 

Dalam kasus kekerasan seksual, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 233 kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. (kompas.id 14-4-2026) Kasus-kasus ini terus berulang dan mengkhawatirkan, menyebabkan tidak ada lagi ruang aman di lingkungan pendidikan. 

Selain itu, lembaga pendidikan yang semestinya membentuk kepribadian peserta didik justru melahirkan generasi yang krisis adab.

Bagaimana di tahun 2025 kita melihat berbagai macam kasus krisis adab yang dilakukan oleh siswa terhadap guru. Guru yang seharusnya dihormati justru di kriminalisasi. 

Yang terbaru kasus sejumlah siswa yang mengacungkan jari tengah terhadap gurunya di SMAN 1 Purwakarta April lalu. (detik.com 20-4-2026)

Lembaga pendidikan yang identik dengan iklim keilmuan berubah menjadi arena pertarungan. Pertarungan meraih popularitas hingga ijazah yang hanya formalitas.

Maka Hardiknas semestinya bukan sekedar peringatan, tetapi alarm keras bagi dunia pendidikan dengan kondisi yang hari ini dialami mampu berjalan menuju perubahan yang lebih baik.