PORTAL BOGOR, Per 29 Juni 2025, jumlah korban tewas akibat agresi Israel ke Gaza mencapai 56.412 jiwa, sebagaimana dilansir oleh Kementerian Kesehatan Gaza melalui laporan yang dikutip oleh CNBC Indonesia dalam kanal videonya (CNBC Indonesia, 29/6/2025). Ini bukan sekadar angka. Ini adalah ratapan para ibu, tangisan anak-anak, dan duka mendalam yang menggema di antara puing-puing bangunan dan reruntuhan masjid.
Namun lebih dari itu, angka ini adalah bukti bahwa dunia telah gagal membela Palestina. Bahkan dunia Islam pun turut andil dalam kegagalan ini.
Sementara rakyat Gaza terus dibantai, para pemimpin dunia Muslim sibuk dengan diplomasi semu dan kompromi palsu. Dalam sebuah proposal gencatan senjata terbaru, yang didorong oleh AS dan disambut sebagian negara-negara Arab, disebutkan normalisasi hubungan dengan Israel dan pengakuan atas kepemilikan Zionis atas wilayah Tepi Barat. Ini jelas bentuk pengkhianatan terhadap rakyat Palestina dan perjuangan mereka selama puluhan tahun.
Lebih ironis lagi, Indonesia dan beberapa negara Muslim lainnya terus mendorong solusi dua negara—sebuah ilusi politik yang tidak pernah berpijak pada realitas. Sejak narasi ini pertama kali digulirkan, genosida terus berlangsung, pemukiman ilegal terus dibangun, dan Masjid Al-Aqsha terus dinodai. Zionis dan Barat tidak pernah, dan tidak akan pernah, benar-benar menginginkan Palestina merdeka.
Bagi mereka, keberadaan negara Yahudi eksklusif di atas tanah rampasan lebih penting daripada prinsip kemanusiaan dan keadilan.
Sebaliknya, bagi rakyat Palestina yang lurus dan tulus, tidak ada sejengkal pun tanah suci yang layak dibagi kepada penjajah. Mereka tidak akan pernah menerima pengkhianatan atas perjanjian Umariyah, dan tidak akan menyia-nyiakan darah para syuhada yang telah berkorban mempertahankan bumi para nabi itu.
Di tengah derita Gaza, sebagian berharap bahwa konflik Iran-Israel dapat memberi tekanan terhadap Zionis. Namun kenyataannya, perang itu tak memberi angin segar sedikit pun untuk kemerdekaan Palestina. Konflik tersebut bahkan memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun penguasa Muslim hari ini yang benar-benar serius membela Gaza. Semua terjebak pada kepentingan geopolitik sempit, bukan pada semangat ukhuwah Islamiyah.
Lalu dari mana fajar kebangkitan umat akan terbit?
Jawabannya adalah dari kesadaran politik umat Islam sendiri, bahwa selama sistem sekuler kapitalistik masih bercokol, selama umat masih berharap pada solusi Barat, maka selama itu pula pembantaian akan terus terjadi. Saatnya umat menoleh ke belakang—bukan untuk mundur, tapi untuk mengambil kembali warisan agung Rasulullah SAW: Khilafah Islamiyah.