PORTALBOGOR.COM - Lebih dari 250 kasus kenakalan remaja sepanjang semester pertama tahun 2025 tercatat di kawasan perkotaan, mulai dari tawuran antar pelajar, konsumsi alkohol, hingga penyalahgunaan media sosial, menurut data dari Dinas Sosial DKI Jakarta. Peningkatan kasus ini menjadi perhatian serius bagi banyak pihak.
Dalam kasus terbaru yang terjadi di wilayah Jakarta Selatan, sekelompok siswa dari dua sekolah menengah pertama terlibat dalam tawuran, yang mengakibatkan luka serius pada dua remaja.
Beberapa siswa yang diduga sebagai provokator telah ditahan oleh polisi dan sedang diselidiki.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Dr. Rina Kartika, mengatakan bahwa dua penyebab utama peningkatan perilaku menyimpang pada remaja adalah lingkungan dan kurangnya pengawasan dari orang tua.
Dr. Rina Kartika juga mengatakan bahwa sekolah juga harus meningkatkan pendidikan karakter dan pengawasan di lingkungan sekolah.
Dr. Andika Prasetya, seorang psikolog remaja dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa masa remaja adalah periode yang rentan terhadap pengaruh negatif.
"Remaja membutuhkan wadah untuk menyalurkan energi dan emosi mereka secara positif, seperti kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, atau kegiatan sosial. Jika hal ini tidak tersedia, mereka cenderung mencari pelarian dalam bentuk yang merugikan," katanya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai program "Remaja Berkarya", yang bertujuan untuk melatih dan melatih keterampilan remaja di wilayah rawan kenakalan.
Program ini dimulai Agustus mendatang dan melibatkan berbagai lembaga, seperti sekolah dan penegak hukum.