PORTAL BOGOR, Bentrokan hebat pecah di Istanbul, Turki, pada hari Senin, di mana pasukan polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan massa yang marah. Massa di kota itu mengamuk setelah sebuah majalah satire menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW.

Insiden itu terjadi setelah jaksa agung Istanbul memerintahkan penangkapan para editor majalah LeMan atas dasar majalah itu telah menerbitkan kartun yang "secara terbuka menghina nilai-nilai agama". (Internasional.sindonews.com, 01/07/2025)

Meskipun demikian, pihak LeMan berdalih bahwa karikatur tersebut hanyalah bentuk kebebasan berekspresi dan satire politik yang disalahartikan. Dalih semacam ini seolah menjadi template setiap kali penghinaan terhadap simbol Islam terjadi di negeri-negeri sekuler. Kita tentu masih ingat bagaimana majalah Charlie Hebdo di Prancis dengan pongahnya menerbitkan kartun serupa, memicu protes global, bahkan menimbulkan serangan balasan yang hingga kini masih menimbulkan polemik di Eropa Barat. (BBC News, 22 Oktober 2020).

Ironisnya, negara-negara Barat justru tampil gagah membela kebebasan berekspresi, seolah-olah kebebasan tersebut adalah nilai sakral yang tak boleh disentuh. Presiden Prancis Emmanuel Macron saat itu bahkan menyatakan: “We will not give up our cartoons,” sebuah pernyataan yang dengan jelas menunjukkan standar ganda peradaban Barat.

Kita patut bertanya, kenapa penghinaan semacam ini terus berulang? Kenapa simbol-simbol Islam selalu menjadi sasaran? Jawabannya sederhana, karena sistem demokrasi sekuler membolehkan, bahkan membenarkan, penghinaan tersebut atas nama kebebasan berekspresi. Kebebasan ini dijadikan tameng untuk memuaskan kebencian mendalam terhadap Islam, sekaligus sebagai alat provokasi yang merusak citra umat Islam di mata dunia.

Mari berkaca pada fakta sejarah. Setiap ada protes umat Islam, media Barat akan memelintir dengan narasi umat Islam anti kebebasan, intoleran, dan tidak siap hidup di era modern. Maka, umat Islam bukan hanya harus menanggung penghinaan, tetapi juga dipaksa tunduk pada narasi bahwa pembelaan kehormatan Nabi SAW adalah tindakan radikal.

 Sungguh ironi kebebasan ala Barat adalah kebebasan melecehkan agama lain dijunjung tinggi, sementara kebebasan umat Islam membela agamanya justru dikriminalisasi.

Berbeda 180 derajat dengan peradaban Barat, peradaban Islam tidak dibangun di atas prinsip kebebasan tanpa batas. Islam menjunjung kebebasan, tetapi dalam kerangka yang terikat akidah dan syariat. Inilah yang menjadikan kebebasan dalam Islam terjaga dari kerusakan moral. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang mencela seorang nabi, maka bunuhlah dia; dan barangsiapa yang mencela sahabatku, maka cambuklah dia." (HR. Ath-Thabarani).