Oleh: Firdayanti Solihat (founder @kristal_bening.id)
PORTAL BOGOR, Stok makanan yang menipis karena jalur perbatasan masih di tutup mengakibatkan kelaparan kian parah di Gaza. Belum lagi serangan yang tak hentinya menyebabkan situasi makin mencekam.
Kelaparan di Gaza makin meluas. Tidak kurang dari 1,1 juta warga kelaparan setiap hari. Kondisi ini menyebabkan penurunan kondisi kesehatan yang sangat parah, terutama di kalangan anak-anak dan bayi. Tercatat lebih dari 65.000 anak-anak di rawat di rumah sakit karena gizi buruk. (sindonews.com 30/4/2015).
Selain itu, dapur umum yang menjadi satu-satunya sumber makanan yang konsisten di gaza akan berhenti beroperasi selama berminggu-minggu kedepan karena stok makanan habis. Sementara ada sekitar 80 persen warga gaza yang bergantung pada dapur umum tersebut. Meskipun hanya sekitar 25 persen memenuhi kebutuhan harian warga, namun selama ini cukup memberikan harapan. (antaranews.com) Pada akhirnya bantuan yang dikirim dari manapun tidak ada artinya.
Keadaan ini sungguh mencekam. Disaat kita masih bisa memilih untuk makan apa setiap harinya, anak-anak gaza bahkan masih memikirkan apakah akan mendapatkan makanan atau tidak. Bahkan dalam gempuran bom yang tidak henti.
Selama genosida, penjajah tidak bisa melumpuhkan semangat juang warga gaza yang tetap teguh meskipun bom tidak henti menghujani. Maka penjajah menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk melumpuhkan mereka.
Dalam situasi yang semakin sulit seperti ini, bantuan apapun tidak berarti. Bahkan solusi dua negara yang ditawarkan oleh PBB tidak menjadi alternatif.
Bertahun-tahun genosida, banyaknya umat muslim seolah hanya buih di lautan yang tiada artinya. Bahkan setiap tahun milyaran umat muslim pergi ke Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadaha haji, tetapi untuk membebaskan satu wilayah dari jajahan sebuah negara kecil saja tidak mampu. Sementara para pemimpinnya hanya sibuk mengirim bantuan, bahkan ada yang berjabat tangan dengan penjajah.
Padahal Allah subhanahu wa ta'aala berfirman: