Oleh: Firdayanti Solihat (founder @kristal_bening.id)
PORTAL BOGOR, Akhir-akhir ini ramai aksi yang dilakukan oleh para aktivis dari berbagai negara yang tergabung dalam aksi "Global March To Gaza". Aksi ini melibatkan jalur darat dan laut. Yang mencuri perhatian mata dunia adalah bagaimana keberanian 12 aktivis berlayar dengan membawa bantuan menerobos blokade Israel.
Sayangnya kapal yang diberi nama Madleen ini harus dihadang oleh pasukan Israel di perairan Internasional. Tidak hanya itu, pasukan Israel juga menahan 12 aktivis yang berada di dalam kapal. Dua diantaranya adalah Greta Thunberg (aktivis iklim global, Swedia) dan Rima Hassan (anggota parlemen Eropa, Prancis).
Kapal Madleen ini diorganisir oleh Freedom Flotilla Coalition. Berangkat pada tanggal 1 Juni 2025 dari Pelabuhan Catania, Sisilia. Nama Madleen sendiri diambil dari nelayan asal Palestina yang menjadi inspirasi sebagai simbol perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina.
Melihat aksi semacam ini, ada dua hal yang menjadi sorotan. Pertama, bagaimana fitrah kemanusiaan masih dimiliki dan dijunjung tinggi oleh mereka yang memiliki nurani. Tidak peduli berasal dari negeri dan agama yang sama atau tidak, mereka bergerak karena rasa solidaritas kemanusiaan yang tidak menghendaki penjajahan.
Kedua, adanya aksi semacam ini menunjukan betapa lemahnya kaum muslimin dan para pemimpin negeri muslim hari ini. Disaat tanah suci umat muslim ternoda, rakyatnya dibantai habis-habisan, para pemimpin negeri muslim hanya cukup beretorika tanpa melakukan aksi nyata.
600+ hari genosida sejak 7 Oktober 2023 bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi jika kita hitung sejak dimulainya invasi Israel terhadap Palestina pada abad ke 19. Selama itu sudah banyak duka dan derita yang dirasakan. Kehilangan bagaikan antrian yang sudah menunggu di depan mata, kapanpun dan dalam kondisi apapun harus siap untuk menghadapi. Anak-anak yang tidak berdosa dibunuh. Mereka dianggap musuh hanya karena lahir dari rahim-rahim muslim Palestina.
Lalu, dimana para pemimpin negeri-negeri muslim? Mereka sibuk menormalisasi hubungan dengan penjajah. Bahkan ada diantara pemimpin tersebut yang menyetujui solusi dua negara ala PBB. Lembaga dunia yang bahkan menjadi bidan dari kelahiran Israel. Lantas apakah solusi dua negara (two state solution) akan menuntaskan permasalahan yang dialami rakyat Palestina?
Sayangnya tidak. Sebab Israel sendiri sebagai pelaku penjajahan tidak menyetujui solusi tersebut. Mereka ingin menguasai seluruh kawasan Baitul Maqdis yang hari ini merupakan wilayah Palestina. Maka, satu-satunya solusi untuk menghentikan kekejaman ini adalah mengusir penjajah Israel dari tanah Palestina dengan mengirimkan pasukan militer yang akan memerangi pasukan penjajah. Dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh negeri muslim yang mampu menyatukan seluruh umat muslim dunia dalam satu aqidah, aturan, dan suasana yang sama. Maka hari ini tugas kita adalah berupaya menegakan kepemimpinan tersebut dengan jalan amar makruf nahi munkar.