Oleh: Deky Ikwal Pratama, Pegiat Sosial dari Forum Katalis Bogor
PORTAL BOGOR, Di tengah-tengah maraknya konten berserakan terselip konten yang menjadi sorotan mata pada gawai banyak pihak. ‘KDM’ Kang Deddy Mulyadi di tengah-tengah merebaknya media mencoba untuk menyelipkan kerja-kerja yang dia kerjakan. Dari konten menyapa warga, sampai character building yang kontroversial.
Respons yang diterima beragam, mendikotomi masyarakat pada dua kutub antara yang menolak dan yang menerima.
Hal ini didasari dengan keresahan beliau ketika guru-guru dan orang tua sudah tidak bisa melakukan pembentukan karakter karena mereka tidak takut dengan guru bahkan terjadi kekerasan dan caci maki pada guru serta orang tua, Deddy Mulyadi mengambil sikap untuk melakukan Pendidikan karakter bekerjasama dengan militer.
Respons yang tercipta beragam akibat kebijakan tersebut, dari yang mulai membandingkan teori sampai menceramahi. Agar dapat menyelami kedalaman berpikir sesorang, kita perlu meninjau yang melandasinya.
Dalam hal ini, prinsip ‘Every fact must have a cause’ menjadi penting sebagai kerangka berpikir.
Every fact must have a cause
‘Every Fact Must Have a Cause’ perlu kita terapkan dalam merespon pada kebijakan. Apa yang melatarbelakangi kebijakan ini hadir dan mengapa harus ini yang diambil. Paling tidak itu yang membawa kita menjelajah proses berpikir KDM.
Yang menjadi fakta kenapa KDM hari ini memilih kebijakan Pembangunan karakter yang kontroversial ini adalah dia melihat bahwa orang tua dan guru sudah tidak memiliki wibawa untuk membimbing, maka dia memilih untuk menyerahkan pada pihak yang dianggap oleh banyak masyarakat punya kewibawaan dan mau didengar oleh anak.