PORTAL BOGOR, Ramadhan berjalan hampir sepekan. Tetapi Gaza masih mencekam. Suasana Ramadhan pertama Gaza ditandai dengan kombinasi antara ketabahan, duka mendalam, dan ibadah ditengah kehancuran total.

 Al-Jazeera (18-02) melaporkan bahwa sejak hari pertama Ramadhan Israel terus melancarakan serangan. Seorang anak syahid di utara Gaza oleh tembakan pesawat tak berawak Israel. Serangan penjajah juga menewaskan seorang pemuda di timur kota Khan Yunis serta melukai tiga warga di al-Maghraqah. 

 Ramadhan yang selalu dilaksanakan dalam suasana meriah menjadi Ramadhan kelabu dengan melonjaknya harga pangan dan keterbatasan. Keterbatasan kemampuan dan sarana prasarana yang menunjang. Namun itu tidak menjadikan semangat warga Gaza untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan surut.

 Dalam kesempatan lain, para pemimpin negeri muslim justru bergabung dalam kelompok yang dinyatakan sebagai "Dewan Perdamaian" (Board of Peace). Kelompok ini diinisiasi oleh Trump dan sekaligus mendeklarasikan diri sebagai pimpinan dari kelompok ini. 

 Dalam rapat perdananya yang berlangsung di Washington DC (19-2), dibahas mengenai rencana pembentukan Satuan Keamanan Pslestina atau Palestinian Security Force (PSF). Namun sangat disayangkan tidak ada satupun pemimpin negeri muslim yang mengungkapkan nuraninya terkait dengan kondisi Palestina saat ini. Terutama ditengah gempuran yang terus terjadi sekalipun dalam keadaan gencatan senjata. (republika.co.id 21-2-2025)

 Menurut laporan UNRWA (18-2) per awal Februari setidaknya lebih dari 72.000 orang syahid. Para peneliti mencatat bahwa komposisi demografi korban perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia merupakan 56,2 persen dari mereka yang terbunuh. Selain itu tercatat sebanyak 2.842 warga Gaza menghilang selama genosida. Sebuah laporan mengaitkan hilangnya warga Gaza tersebut akibat dari penggunaan senjata bersuhu tinggi (termobarik) yang memiliki daya hancur yang luar biasa hingga mampu menguapkan jaringan tubuh manusia. (antaranews.com 12-2-2025) Sungguh kebiadaban di luar nalar.

 Kondisi Gaza hari ini adalah kondisi yang memperihatinkan. Namun kondisi pemimpin negeri muslim lebih memperihatinkan. Bagaimana hati nurani mereka tertutup sehingga mau menjadi bagian dari pada kelompok penyokong terbesar genosida ini. 

 Dengan melihat jumlah korban, serangan yang semakin brutal, maka kejahatan Israel tidak bisa ditolelir dengan diberikannya solusi damai. Kerusakan yang dilakukan sudah melampaui batas dan harus dihentikan dengan kekuatan yang sebanding, yakni militer.

 Dalam Islam, segala bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keadilan yang telah Allah tetapkan, seperti kekerasan fisik, pelanggaran terhadap hak Allah, hak manusia dan tatanan keadilan secara menyeluruh adalah kedzaliman. Dan Allah secara tegas mengecam dan melarang bentuk kedzaliman ini, pun demikian dengan sekedar menjadi pendukung pelaku kedzaliman.