PORTAL BOGOR, Indonesia berduka. Beberapa waktu lalu bencana besar melanda sebagian wilayah Indonesia, yakni Sumatera. Kendati bencana yang terjadi tidak meluas ke berbagai pulau lain, tetapi karena banyaknya korban dan dampak dari bencana ini sepatutnya dinyatakan sebagai Bencana Nasional.
Mengutip CNBC Indonesia (3/12), BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia terkonfirmasi mencapai 753 orang, 650 orang masih dilaporkan hilang, sekitar 2.600an orang terluka. BPNPB juga mencatat ada sekitar 3,3 juta orang dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang terdampak. Dari mulai kehilangan tempat tinggal, fasilitas umum, hingga harus mengungsi.
Musibah ini dimulai ketika cuaca ekstrim yang menyebabkan hujan deras turun hampir tanpa henti di beberapa daerah sejak akhir pekan November 2025. Di Sumatera Barat curah hujan yang tinggi memicu banjir dan longsor di banyak Kabupaten. Laporan awal kerusakan meluas, dengan ribuan warga harus mengungsi dan rusaknya infrastruktur.
Di Sumatera Utara kejadian banjir dan longsor hampir bersamaan di beberapa kabupaten dan kota. Sungai meluap, jembatan terputus, dan akses jalan yang terhambat membuat avakuasi lebih sulit.
Menurut BMKG terbentuknya Siklon Tropis di selat Malaka adalah salah satu pemicu cuaca ekstrem di wilayah Sumatera. (bmkg.go.id 26/11/2025) Cuaca ekstrem inilah yang menjadi salah satu penyebab banjir bandang di sebagian wilayah Sumatera.
Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr. Heri Andreas, ST., MT., dari kelompok keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi Geodesi memberikan penjelasan bahwa banjir bukan hanya tentang hujan, tetapi bagaimana air dapat diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi.
Kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan menyerap air jauh lebih tinggi dibandingkan engan wilayah yang telah beralih fungsi menjadi pemukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi. (itb.ac.id 28/11/2025)
Itulah alamiahnya siklus air. Ia menguap, turun sebagai hujan, dan diserap untuk dikelola oleh bumi.
Namun sayangnya, bumi yang tidak mampu mengelola akan menjadikan air mengalir begitu saja. Menyebabkan air meluap ke permukaan dan melalap habis apapun yang ada di sekkitarnya.