PORTALBOGOR.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengingatkan masyarakat akan potensi bencana besar yang mengintai wilayah Indonesia akibat aktivitas gempa Megathrust yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia—Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia—menjadi salah satu negara paling rawan terhadap ancaman seismik.
Diketahui bahwa salah satu segmen Megathrust yang paling berbahaya adalah yang terletak di Pantai Selatan Jawa.
Menurut peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, jika segmen Megathrust selatan Jawa hingga Selat Sunda "pecah," maka akan memicu gempa dengan kekuatan M 8,7 yang berpotensi menimbulkan tsunami setinggi 20 meter yang dapat menghantam wilayah Jawa Barat, Banten, Lampung, hingga Jakarta.
"Gempa ini akan memicu gelombang tsunami yang menjalar dari selatan menuju utara, melewati pesisir Selatan Jawa, kemudian masuk ke Selat Sunda dan mengarah ke Jakarta," jelas Nuraini.
Dalam simulasi BRIN, gelombang tsunami diperkirakan mencapai pesisir utara Jakarta dengan ketinggian antara 1 hingga 1,8 meter dalam waktu sekitar 2,5 jam setelah gempa terjadi.
Sementara itu, wilayah seperti Lebak hanya memiliki waktu 18 menit sebelum tsunami tiba. Kecepatan gelombang ini menunjukkan betapa pentingnya sistem peringatan dini untuk menyelamatkan masyarakat.
Berbicara di Depan Content Creator, Teguh Santosa Bandingkan Empat Pemimpin Besar Indonesia
"2,5 jam untuk Jakarta Utara, sementara wilayah Lebak hanya punya waktu 18 menit. Lampung yang menghadap Selat Sunda juga akan terdampak secara keseluruhan," tambah Nuraini.
Seluruh pesisir Banten juga diprediksi akan terkena dampak tsunami, meskipun tinggi gelombang akan bervariasi tergantung kedalaman laut, bentuk pantai, dan jarak dari pusat gempa.
Dalam skenario terburuk, tsunami ini tidak hanya mengancam wilayah pesisir tapi juga berpotensi merusak infrastruktur vital di perkotaan seperti Jakarta.