PORTAL BOGOR, Gencatan senjata adalah harapan bagi kita untuk melihat warga gaza menyambut Ramadhan tahun ini dengan suka cita. Tapi pada kenyataannya tidak. 

Saat Ramadhan dimulai di Gaza, banyak warga terpaksa menjalani bulan suci di tenda-tenda darurat ditengah puing-puing rumah mereka yang hancur, tanpa kebutuhan pokok, masjid yang layak, serta dalam keadaan musim dingin.

Meskipun ada gencatan senjata, tank-tank penjajah Zionis gencar melepaskan tembakan ke arah warga Palestina si Rafah, jalur Gaza Selatan. Diantaranya seorang pemuda berusia 18 tahun yang dibunuh oleh drone Israel di pusat Kota Rafah. Dan ini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sudah diberlakukan sejak 19 Januari lalu. (sahabat Al-Aqsha)

Sementara itu, akses warga Palestina ke Masjidil Aqsha di batasi oleh penjajah dengan dalih keamanan. Bahkan gerombolan serdadu Israel menyerbu halaman Masjidil Aqsha setelah shalat terawih dan memaksa para jamaah meninggalkan kompleks. (sahabat Al-Aqsha 2/3/2025)

Tidak cukup sampai disitu, penderitaan mereka masih terus bertambah dengan penghentian masuknya bantuan kemanusiaan (termasuk bahan makanan). Ini menyebabkan bahan makanan disana menjadi mahal. Hal ini mengharuskan warga Palestina menjalani Ramadhan tanpa makanan. 

Sungguh sebuah kenyataan yang memilukan saat melihat keadaan saudara semuslim kita dalam keadaan tertindas, namun kita tidak bisa berbuat banyak.

Baitul Maqdis adalah tempat yang sangat penting bagi umat muslim karena merupakan kiblat pertama dan rumah bagi banyak para Nabi. Selain itu Baitul Maqdis juga merupakan tempat transitnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika melakukan perjalan Isra Mi'raj. Bahkan pada saat itu beliau juga mengimami seluruh Nabi dan Rasul utusan Allah disana. 

Maka Rasulullah tidak pernah berpaling sedikitpun dari Baitul Maqdis. Meskipun Rasulullah semasa hidupnya tidak pernah melihat Baitul Maqdis merdeka, namun beliau selalu mengupayakan terbebasnya Baitul Maqdis dari cengkeraman Romawi dengan berbagai cara. Salah satunya adalah mempersiapkan pasukan untuk misi pembebasan ini. 

Ikhtiar ini adalah ikhtiar panjang. Maka ikhtiar yang dilakukan oleh Rasulullah baru bisa tercapai pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pun demikian generasi selanjutnya. Saat Baitul Maqdis terlepas dari kaum muslimin, maka akan selalu ada yang berupaya membebaskannya kembali dari tangan kafir penjajah.