PORTALBOGOR.COM, JAKARTA - Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) meminta publik memahami pernyataan Jusuf Kalla secara utuh dan kontekstual, bukan secara parsial, setelah pernyataan tokoh nasional itu menimbulkan kesalahpahaman dari sebagian umat Nasrani.
Dalam pernyataan sikap resmi yang ditandatangani di Jakarta pada Senin (20/4/2026), MN KAHMI menegaskan bahwa kesalahpahaman yang muncul lebih disebabkan oleh pemaknaan yang terpotong, bukan karena adanya niat untuk menyinggung atau mendiskreditkan kelompok tertentu.
KAHMI Tegaskan Komitmen Keberagaman
MN KAHMI menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi kebhinekaan, dimana setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa memandang latar belakang agama dan keyakinan.
KAHMI ini juga menolak keras upaya menjadikan perbedaan tafsir sebagai alat pemecah persatuan bangsa.
"Upaya membangun narasi konflik antarumat beragama harus dihindari karena bertentangan dengan semangat persaudaraan kebangsaan," demikian bunyi poin ketiga pernyataan sikap MN KAHMI yang dikutip pada Senin (20/4).
Berbicara di Depan Content Creator, Teguh Santosa Bandingkan Empat Pemimpin Besar Indonesia
Seruan Dialog dan Tabayyun
MN KAHMI mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para tokoh agama, untuk mengedepankan dialog, klarifikasi (tabayyun), dan sikap saling memahami guna mencegah kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Organisasi ini sekaligus membela rekam jejak Jusuf Kalla sebagai tokoh nasional yang dinilai konsisten dalam menjaga perdamaian, termasuk dalam penyelesaian berbagai konflik sosial dan keagamaan di Indonesia.