PORTALBOGOR.COM, JASINGA - Pergantian nama Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga menjadi Sasana Budaya Kahfi memantik kontroversi di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Kalangan aktivis budaya menilai penggantian nama itu berpotensi menghapus memori kolektif dan menggeser narasi sejarah masyarakat Jasinga.
Didin Ra Dien, aktivis muda dari Jaringan Kebudayaan Rakyat asal Kecamatan Jasinga, menjadi salah satu suara kritis yang paling lantang menyoroti kebijakan penamaan baru tersebut.
Ia menilai penggantian nama berbasis sejarah dengan nama yang dinilai cenderung personal adalah langkah yang berbahaya.
"Kalau nama lama yang berbasis sejarah dihapus, lalu diganti dengan simbol yang cenderung personal, ini berbahaya. Bukan hanya menggeser makna, tetapi bisa menghapus memori kolektif masyarakat," tegasnya pada Rabu (29/4).
Tafsir Nama "Kahfi" Dinilai Kabur dan Tidak Proporsional
Menurut Didin, penyematan kata "Kahfi" dalam nama baru pendopo itu tidak jelas merujuk pada siapa.
Ia menduga nama tersebut mengacu pada Raden Kahfi, namun ketidakjelasan rujukan itu justru menimbulkan tafsir yang kabur di tengah masyarakat.
Didin juga menekankan bahwa bangunan Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga berdiri jauh sebelum era Bupati Bogor ke-3.