PORTALBOGOR.COM, LEWILIANG Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang kini resmi menyandang nama baru: RSUD R. Moh. Noh Nur.
Pergantian nama ini merupakan bentuk penghormatan dan pengakuan atas jasa-jasa seorang pahlawan daerah yang telah mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan Indonesia.
Mungkin tak banyak yang familiar dengan nama R. Moh. Noh Nur. Namun, sosok ini adalah putra asli Leuwiliang, Kabupaten Bogor, yang lahir pada 9 Maret 1914.
Beliau bukan sekadar warga biasa, melainkan seorang pejuang yang memainkan peran krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama selama masa kritis Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948-1949.
Perjalanan Seorang Pejuang (Raden Mohammad Noh Nur) atau R. Moh. Noh Nur bergabung dengan BKR/TKR, organisasi militer rakyat yang dibentuk setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang kemudian berkembang menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sebagai bagian dari institusi militer tersebut, R. Moh. Noh Nur menunjukkan dedikasi dan keberaniannya yang luar biasa. Salah satu kisah paling heroik dalam hidupnya terjadi pada awal tahun 1949. Kala itu, situasi di wilayah Bogor Barat sangat genting akibat gempuran pasukan Belanda.
R. Moh. Noh Nur dengan gagah berani memimpin pengawalan rombongan pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri menuju wilayah yang lebih aman. Ia gugur di medan perang pada tanggal 22 Januari 1949.
Namun, tragedi tak terhindarkan. Ketika rombongan menyeberangi Sungai Cikaniki di kawasan Leuwicatang, yang kini menjadi bagian dari Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pasukan Belanda melancarkan serangan mendadak. Dalam insiden tragis itu, R. Moh. Noh Nur gugur sebagai seorang prajurit dengan pangkat terakhir Mayor.
Nyawa beliau memang terenggut, namun keberanian dan pengorbanannya telah abadi dalam sejarah perjuangan bangsa.