PORTALBOGOR.COM, KABUPATEN BOGOR — Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) Jabodetabek mengkritisi soal rangkap jabatan yahg dilakukan oleh Heri Gunawan, anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Partai Gerindra yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kabupaten Bogor.
Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) Jabodetabek, sebuah lembaga independen yang fokus memantau kinerja wakil rakyat ditingkat daerah dan nasional menyebut bahwa praktik rangkap jabatan di tubuh legislatif masih menjadi masalah serius dalam tata kelola politik daerah.
Dalam keterangannya kepada awak media, Direktur KOPEL Jabodetabek, Susana Tutik Mardiyanti, menilai posisi ganda Heri Gunawan berpotensi mengganggu independensi fungsi legislatif, terutama dalam hal pengawasan dan penyerapan aspirasi masyarakat.
“Memang itu (rangkap jabatan) jadi pertanyaan buat kita. Jadi terpilihnya beliau itu kan sebagai yang mewakili Dewan Perwakilan Rakyat yang seharusnya di komisi II ini lebih fokus menangani masalah ekonomi masyarakat di Kabupaten Bogor,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui Whatsapp pada Sabtu (17/10).
Menurut Susana, aktivitas Heri Gunawan yang lebih sering terlihat dikegiatan Karang Taruna memperkuat indikasi bahwa ia tidak sepenuhnya menjalankan tugas utama sebagai anggota DPRD.
“Namun, lagi-lagi dia ini merangkap jabatannya lebih condong lebih banyak dilakukan di Karang Taruna, yang mana jabatannya ini sebagai Ketua Karang Taruna di Kabupaten Bogor. Nah, ini artinya malah bermain di dua kaki, harusnya seorang anggota DPRD itu sifatnya mengawasi dan independen dalam pengawasan anggaran pemerintah,” tegasnya.
Susana juga menyinggung aspek etika dan integritas politik, yang seharusnya dijaga oleh seorang pejabat publik.
Menurutnya, fokus waktu dan energi seorang legislator seharusnya tertuju pada kepentingan konstituennya, bukan pada organisasi lain yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
“Harusnya dia memiliki etika yang artinya dipakai. Apa mungkin akarnya dia beralas budi di Karang Taruna sehingga lebih melingkan waktunya lebih banyak di Karang Taruna? Itu kan menggambarkan tidak bijak juga,” katanya.